sudah berapa lama kita berpisah ibu?
sudah berapa lama kita tak saling sapa?
sudah berapa lama kita tak saling jumpa?
ku rasa waktu enggan sekali menyatukan kita
memperlambat langkahnya hingga aku tercekik rindu
di kota perantauan ini..
kadang aku merasa sudah tidak sanggup lagi
bertahan di kota penuh persaingan ini,
inginku kembali ke rumah dan memandang wajah
anggunmu
namun lagi-lagi waktu enggan memberiku jeda untuk
sekedar menyandarkan kepalaku di bahumu
ibu..
bisakah aku kembali menjadi bocah kecilmu?
dimana hanya tangan dan kakiku yang terluka,
bukan hatiku..
dimana waktu itu kau memberikan harapan palsumu
hanya karena tak membelikan mainan impianku
bukan harapan palsu karena cinta..
ibu..
menjadi dewasa tidaklah seindah bayangan masa
kecilku dulu
menjadi dewasa lebih menyakitkan dari bayangan
yang diberikan kakak-kakak dulu..
ahh sampai kapan aku harus melawan penyakit rindu
ini?
penyakit yang lebih menyesakkan dari asma dan
gigilnya pu lebih parah dari demam bermalam-malam..
semoga waktu berkenan mengajakku pulang..
memandang dan memeluk tubuhmu layumu..
takkan pernah ku lepas lagi..
tak ada yang lebih menyiksa dari sebuah perpisahan,
berlalu begitu saja tanpa kata, tanpa segores pena
merobek dunia seseorang dengan seenak hatinya
bukankah kau sendiripun tahu, hatiku seperti kertas? sekali kau robek, tak akan bisa kembali seperti semula..
bukankah kau pun tahu, sekali kau tikam selamanya luka kan menganga??
ah entahlah..
ia masih saja termenung memandangi secangkir kopi hitam dengan gula secukupnya,
matanya sayu penuh sendu, seakan ada abu yang menyelimuti sekeping hatinya. di balik jendela, hujan membasahi seluruh kota, baginya, hujan di hatinya lebih hebat dari hujan di balik jendela itu.
jejak masa lalu telah mencekik hidupnya, kenangan yang tercecer di seantero kota membuatnya seakan ditusuk pedang sembilu.
sejenak ia keluar, melebur bersama derasnya hujan, berharap air matanya bersatu, berharap tak ada satu orangpun yang tau sesulit apa hidup yang dirasakannya..
biarkan tetes hujan menyapu seluruh air matanya
hembusan angin menjamahnya dengan mesra
membiarkan diri menari bersama tetesan air surga
dibalik hati yang tergores perih..
berteman dengan senja yang kian menyapa
goresan pena 4 november 2014
Waktu telah mempertemukan kau dan
aku
Meyatukan dua keping hati menjadi
satu
Meyanyikan sajak sajak cinta yang
bermelodi indah.
Sayang..
6 bulan terlewati begitu saja
Kenangan kita tercecer di setiap
pojokan kota
Disetiap arah tergambar jejak tapak
kaki kita
berharap tuhan kan menjadikan kita satu jiwa
satu rasa
satu nyawa
ummu salamah
3 november 2014
Langganan:
Komentar (Atom)





